KETIKA ALLAH TURUN GUNUNG

Keluaran 19:16-25


Bayangkan Saudara harus menghadap pimpinan tertinggi di perusahaan. Saudara diminta mengenakan pakaian formal, menjaga sikap, dan penuh rasa hormat. Itulah respons manusia ketika berhadapan dengan otoritas yang lebih tinggi. Jika kita dapat merasa gentar saat berhadapan dengan pemimpin manusia, bagaimana seharusnya sikap kita ketika berhadapan dengan Tuhan?

Dalam teks ini, bangsa Israel sedang bersiap untuk berjumpa dengan Allah di Gunung Sinai. Allah telah memerintahkan mereka untuk menguduskan diri selama tiga hari. Pada hari ketiga, gunung itu berguncang, diselimuti awan gelap, petir, bunyi sangkakala yang nyaring, serta api yang melalap. Suasana tersebut menggambarkan kekudusan dan kemuliaan Allah yang menggentarkan. Bahkan Musa gemetar saat menghadap-Nya (bdk. Ibr. 12:21). Tuhan memerintahkan agar umat tidak menerobos batas untuk melihat-Nya. Kekudusan-Nya tidak dapat diperlakukan secara sembarangan.

Di tengah budaya modern, kita dapat kehilangan rasa hormat terhadap kekudusan Allah. Ada orang Kristen yang datang ke gereja dengan pakaian seadanya, atau berdoa tanpa mempersiapkan hati. Kita menyebut nama Tuhan dengan ringan, tanpa rasa gentar. Namun Allah yang disembah Musa adalah Allah yang sama hingga hari ini: kudus, layak ditakuti, dan dihormati. Ketika kita menghormati kekudusan Tuhan, kita belajar menempatkan Dia di takhta yang semestinya dalam hidup kita. (Wasiat)


REFLEKSI: Rasa gentar yang muncul dalam diri, pertanda kita mengenal siapa Allah sebenarnya.

Share this Post